Jumat, 13 Agustus 2010

Kiper Juga Manusia (Soal Keterbatasan Manusia)

Sorry kalau saya plesetin lagunya Seurieus, “Rocker Juga Manusia”, tapi serius deh, kiper juga manusia, bahkan kiper menunjukan siapa manusia sesungguhnya. Saya suka banget dengan beberapa pekerja lapangan hijau yang berada di bawah mistar gawang. Bagi saya, kiper yang bagus adalah punya perawakan tinggi, sigap, agak galak, dan punya pergerakan cepat. Misalnya Edwin Van Der Sar, kiper Belanda yang pernah main di Juve, terus ke Fulham, dan MU. Orang ini tinggi dan jago. Gawang MU jadi jarang kebobolan karenanya. Di Italia, ada Buffon yang tinggi, besar, dan mengerikan di bawah mistar.

Tapi di luar fenomena ajaib beberapa kiper tadi, ternyata kiper juga manusia biasa. Dan lebih lagi, kiper merupakan presentasi dari hidup ini sebagai manusia. Maksudnya begini. Apa sih ukuran keberhasilan seorang kiper? Apakah kiper yang berhasil itu adalah kiper yang tidak pernah kebobolan? Kalau itu ukurannya, mana ada kiper yang berhasil, karena semua juga pernah kebobolan. Ternyata kiper yang bagus, bukanlah kiper yang sama sekali tidak pernah kebobolan; tapi yang kebobolannya minimal.

Pelatih tentu akan kesengsem melihat kiper yang andal. Tapi rasanya tidak ada pelatih yang menuntut armada kipernya agar tidak pernah kebobolan sama sekali. Rasanya pelatih dapat mengerti kalau kipernya pernah melakukan beberapa kali kesalahan sehingga gawangnya kebobolan. Tapi pelatih akan segera bereaksi keras kalau gawangnya kebobolan melulu. Anggap saja hidup ini adalah “gawang” yang harus dijaga. Hidup ini indah, bukan? Tetapi ternyata hidup ini perlu dijaga supaya hidup ini tidak terjerumus dan hancur berantakan. Bahkan “gawang” kehidupan ini perlu dijaga jauh lebih lama dari kiper di lapangan.

Pertanyaannya adalah, apakah manusia bisa menjaga gawang kehidupannya dengan sempurna? Nah, itulah gunanya belajar dari kiper. Kiper paling hebat sekalipun, kalau dia loncat ke sisi kiri gawangnya, maka pasti yang kanan akan kosong. Kalau dia loncat ke kanan, pasti yang kiri kosong. Kalau dia loncat ke atas, maka sisi bawah akan lowong. Terlalu sering penjaga gawang tertipu oleh striker pintar macam Ronaldo. Kirain mau nendang ke kiri, nggak taunya ke kanan.

Setiap kali melihat kehebatan manusia, sesungguhnya akan terlihat pula, di saat yang sama, kelemahannya. Sehebat-hebatnya manusia, tetaplah ia insan dengan keterbatasan yang tidak “maha bisa.” Sisi baik seseorang manusia akan berjalan beriringan dengan kelemahan-kelemahannya. Manusia tidak omnipresence, hadir di segala tempat dalam satu waktu. Kiper-lah contohnya. Kehebatan manusia di satu bidang sesungguhnya akan diikuti ketidakmampuan di bidang lain. Kejeniusan Einstein di satu sisi, dibarengi kepikunannya yang parah. Kegemilangan prestasi Michael Jackson yang albumnya bisa habis lebih dari 50 juta kopi, disertai dengan kekosongan hidupnya akibat masa kecil yang habis untuk kegiatan menyanyi, ditambah dengan kesukaannya mengutak-atik tubuhnya dengan operasi plastik.

Setiap melihat para pekerja lapangan hijau beraksi dalam sebuah pertandingan sepak bola, terutama pada kiper, saya selalu bertobat untuk yang kesekian ratus kalinya memandang diri saya sendiri. Ya ampun, ternyata sisi baik dalam diri saya selalu diiringi dengan kelemahan dan keterbatasan. Bodohnya saya, kalau masih suka merasa bangga diri. Betapa gawang kehidupan ini tidak bisa saya jaga sendiri. Saya perlu menjaganya bersama orang-orang di sekeliling saya, rekan-rekan satu tim. Saya juga selalu merasa kecil dan hina, betapa tak mampunya saya menguasai seluruh lapangan kehidupan. Saya ternyata hanya bisa bertanggung jawab di sekitar kotak pinalti, tempat saya menjaga gawang hidup. Masih terlalu banyak pekerjaan yang tidak dan belum saya lakukan. Masih terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk diri sendiri.

Di tengah keterbatasan saya, saya cuma bisa mencoba untuk setia dengan panggilan hidup, walau mungkin cuma secuil. Yang saya dapat lakukan saat ini hanyalah memberitahukan sebuah pesan yang kecil dan sederhana kepada Anda bahwa yang kita lakukan selama ini masih sangat kecil dan tak berarti, hidup ini adalah karena rahmat yang tak terperi. Semoga ini berguna untuk mengikis kadar jumawa dalam hati. Karena tinggi hati hanyalah bukti bahwa manusia terlalu naïf memandang prestasi diri. Kadang kala, prestasi manusia terlalu dijunjung tinggi, padahal di bagian dunia lain masih banyak orang yang sama sekali tak menikmati secuil pun prestasi yang dianggap tinggi. Berterimakasihlah kepada kiper yang mempresentasikan ini.

(Gheeto TW, Kick n’ Goal)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar