Selasa, 17 Agustus 2010

The Best of Number Two (Soal Sadar Diri dan Menilai Diri)

Hidup ini tidak selamanya menjadi paling hebat, selalu jadi number one. Ada kalanya harus puas menjadi the best of number two, atau bahkan number three. Menjadi yang terbaik adala keharusan, dan melakukan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya bukanlah pilihan. Tapi untuk selalu menjadi yang nomor satu, tidak selamanya bisa dialami. Hidup ini wajar-wajar saja, tidak selalu di atas, tapi jangan sampai hobi terpuruk. Kalaupun terpuruk, ya, bangkit lagi.

Kita kenal salah satu pelatih yang the best, Arsene Wenger, yang pernah membawa Arsenal juara berturut-turut. Tapi di kancah eropa, justru belum pernah membawa timnya juara. Atau Guus Hiddink yang pernah melatih Korsel dan membawa Australia ke Piala Dunia 2006? Ia adalah salah satu yang the best. Tapi, walau kariernya dihormati di negeri orang, timnas negerinya orang itu belum memperoleh prestasi tertinggi di tangan Hiddink. Ia masih belum punya number.

Mereka-mereka itu adalah pelatih-pelatih yang selalu melakukan tanggung jawabnya dengan sangat baik, the best. Tapi mereka belum pernah merasakan jadi number one. Mereka adalah orang-orang yang the best, tapi belum menjadi the number one.

Ternyata dalam hidup ini kita harus jadi the best, tapi jangan menyesal kalau di zaman yang sama ternyata masih ada orang yang lebih hebat dan menempatkan kita dalam posisi number two. Tapi, tujuan mulia dari mengejar prestasi bukanlah untuk bersaing. Kadang terbayang di benak kita, “Kalau dia jadi nomor satu, saya juga harus jadi nomor satu.…” OK, kadang itu berhasil, kadang juga tidak. Manusia hidup bukan untuk saling mengalahkan. Kalau prinsip ini ada maka hasilnya adalah, “Saya nomor satu, kamu nomor dua.” Tetapi manusia hidup untuk saling respek, sehingga hasilnya adalah, “Kamu bagus, saya bagus, kamu bagus di sini, saya bagus di situ.”

Di zaman ini, manusia dilatih untuk selalu menjadi yang nomor satu. Manusia dilatih untuk tidak mengenal rasa takut, selalu berada pada prestasi puncak, bahkan dilatih untuk menyingkirkan rasa sama sekali. Tapi yang lebih parah adalah, manusia dimotivasi sedemikian rupa untuk menjadi “binatang-binatang aduan”, yang menekankan persaingan. Itulah sebabnya kemajuan manusia selalu beriringan dengan penyakit yang makin aneh-aneh dan mematikan, serta tingkat stres yang sangat tinggi. Manusia bukan mesin, dan tidak selamanya bisa berada dalam top performance. Selalu saja ada masa di mana manusia akan mengalami penurunan.

Mungkin ada baiknya untuk bisa membedakan, untuk menjadi the best atau menjadi number one. Menjadi nomor satu, titik pusat pergerakannya adalah persaingan. Carl lewis, sprinter kenamaan Amerika dalam film dokumenter The Ultimate Athlete, mengatakan, “Saat di garis start, saya tahu bahwa di kiri dan kanan saya adalah lawan-lawan saya yang siap mengalahkan saya. Tapi, saya tidak berlari untuk mereka….” Itulah sebabnya ia menjadi pelari dengan prestasi luar biasa. Ia berlari bukan untuk mengalahkan lawan, tetapi untuk menggapai tujuan dengan cara yang efektif dan cepat hingga garis finish. Itu saja resepnya. Dengan sendirinya, ia menjadi orang yang sekuat-kuatnya berlari untuk mencapai garis finish, walau tidak selamanya ia berada di prestasi terbaik sebagai the number one.

Menjadi yang terbaik, titik pusat pergerakannya bukan pada persaingan dan saling mengalahkan, tetapi pada pengerahan kemampuan yang terbaik dalam diri sendiri. Kalaupun harus menjadi nomor dua, setidaknya sudah melakukan yang terbaik. Menjadi yang terbaik bukan terpaku pada hasil, tapi pada kualitas hidup.

Kita diciptakan dengan kualitas terbaik yang telah diberikan Penguasa hidup. Jadi, melakukan yang terbaik adalah standar sehari-hari bagi hidup ini. Mengembangkan potensi diri yang sebesar-besarnya, perlu jadi gaya hidup. Tetapi jika di zaman yang sama hidup pula pribadi yang lebih baik dan menempatkannya menjadi nomor satu, it’s OK, karena yang penting adalah mempertanggungjawabkan hidup ini bagi Penguasa hidup itu tadi.

(Gheeto TW, Kick n’ Goal)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar